Fenomena Koperasi Milenial di Kampus Daerah

Published by adminaris on

Sejumlah koperasi mahasiswa membuktikan bahwa mereka patut diperhitungkan sebagai pengelola berkinerja baik dari segi usaha, maupun komunikasi dengan media sosial. Mahasiswa Yogyakarta dan Bandung menunjukan animo tinggi. Ada kuda hitam dari Tasikmalaya dan Bandarlampung.

Dua koperasi mahasiswa (kopma) dari kota gudeg, Yogyakarta, yakni Kopma Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Kopma Universitas Gajah Mada (UGM) boleh dibilang mewakili unjuk prestasi kalangan milenial dalam berkoperasi.  Keduanya membukukan kinerja  unggul, baik dari segi keuangan, organisasi bahkan juga dari segi pengelolaan media sosial. Majalah Peluang melakukan riset terhadap lebih dari 15 Kopma.  

Kopma UNY mampu meraup omzet per tahun (sebelum pandemi) sekitar Rp16 miliar dan jumlah anggota 6.800. Namun akun instagramnya hanya sekitaran 1.200 posting dan 5.200 follower

Sementara Kopma UGM meraup omzet Rp7,6 miliar pada Tahun Buku 2019, namun dari medsos lebih produktif, dengan akun instagramnya mempunyai 2.300 posting dan lebih dari 6.100 follower. Dari segi pengelolaan medsos Kopma UGM menunjukkan keunggulannya.

Posisi ketiga diduduki oleh Kopma Universitas Pendidikan Bandung. Kopma ini pada tahun buku 2019 meraup omzet Rp3,3 miliar dan produktivitas instagramnya mencapai di atas 1.800 posting dan 3.600 follower.

Beberapa kopma lain yang dipantau relatif berkinerja keuangan cukup rata dengan omzet Rp800 juta hingga Rp1,2 miliar dan pengelolaan media sosial juga relatif cukup baik. Ada juga yang dari segi usaha belum memuaskan, namun dari segi pengelolaan media sosial cukup baik.

Ketua Kopma UNY Agus Prasetyo menyampaikan anggota yang mencapai 6.800 orang, terdiri dari mahasiswa, dosen, karyawan, dan alumni UNY yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia.

“Kopma UNY memiliki beberapa bidang usaha yaitu, Usaha Simpan Pinjam (USP) Amanah, minimarket, ayam geprek Sarjana, jasa kopma dan JNE. Kontributor terbesar adalah minimarket yang menyumbang omzet Rp1 miliar per bulan atau Rp12 miliar setahun,” kata Agus.

Pandemi Covid-19 memberikan dampak bagi usaha, terutama minimarket yang hanya mampu memberikan omzet sekira Rp500 juta per bulan.

Pandemi Covid-19 rupanya tidak menghalangi Kopma UGM untuk beraktivitas. Sekalipun keterbatasan akibat pandemi berdampak pada usaha, masih ditambah dengan sejumlah renovasi bangunan yang dilakukan UGM tidak membuat kegiatan dan bisnis terhenti.

Ketua Kopma UGM Amin Bachtiar menyampaikan pada November lalu, misalnya berhasil menggelar Pameran Kewirausahaan Nasional “Gebyar Perwira” secara virtual pada 28-29 November lalu. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 1.000 peserta, tidak saja mahasiswa UGM, tetapi juga mahasiswa dari universitas lain.

Kopma UGM mempunyai empat divisi usaha, yaitu swalayan, konveksi dan sablonase (Gamashirt), kafetaria, dan warparpostel. Meskipun pada pandemi omzet turun drastis. Namun menurut Amin angkanya masih berkisar Rp3 miliar.

Sebagai catatan Kopma UGM terpilih menjadi salah satu Koperasi Berprestasi pada 2018 oleh Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM). Terpilihnya Kopma UGM telah disahkan dalam Keputusan Menteri Koperasi dan UKM Nomor 21 Tahun 2018 tentang Penetapan Koperasi Berprestasi tahun 2018 yang melibatkan 50 koperasi terpilih dari seluruh Indonesia. Kopma UGM dikategorikan sebagai koperasi berprestasi jenis koperasi konsumen bersama 17 koperasi lainnya.

Apa yang membuat milenial di Yogyakarta begitu animo berkoperasi ? Menurut Agus Prasetyo umumnya karena mereka ingin belajar berbisnis sejak kuliah, apalagi di Kopma ada progam pendampingan usaha.

“Mereka bangga berkoperasi,” ucap Agus.

Selain Yogyakarta, Koperasi Mahasiswa Universitas negeri Sebelas Maret Solo (UNS) pun mencatat kinerja keuangan yang bagus pada 2019 yaitu Rp2,9 miliar dan anggota sekira dua ribu orang. Media sosialnya, instagram aktif dengan 1.000 posting dan sekitar 5.400 follower, begitu juga Youtube.

SEMANGAT KOPERASI  DI BANDUNG

Sementara Kopma Bumi Siliwangi, Kopma UPI menunjukan kinerja kinclong pada 2019 dengan sekira tiga ribu anggota, 14 unit usaha, 20 karyawan dengan omzet Rp3,3 miliar. Karena prestasi ini, Kopma UPI mendapatkan predikat koperasi berprestasi jenis konsumen yang diberikan Kementerian Koperasi dan UKM pada Hari Koperasi Nasional tahun 2019.

Namun seperti koperasi lain, kopma ini juga diterpa pandemi Covid-19. Bisnis ambruk. Dari 14 unit usaha tinggal 6 usaha. Omzet pun menunjukan titik terendah pada April 2020 hanya meraup Rp1,6 juta dan karyawannya hanya tinggal 4 orang.

Menyerah? Tentu saja tidak.  Ketua Kopma Bumi Siliwangi UPI Wawan Prasetyo mengatakan, tetap jalan dengan enam unit usaha, yaitu ada JNE, BS-Cilox, BS-Seblak, BS-Stationary, BS-Cell, dan pembuatan plakat. Meskipun omzetnya tidak sebanyak 2019.

“Kami melakukan shifting bisnis yang tadinya mayoritas fisik ke daring dengan membuka toko di berbagai e-commerce, memanfaatkan media sosial seperti instagram dan WhatsApp,” ujar Wawan.

Bandung praktis jadi kota kedua, di mana animo mahasiswanya berkoperasi cukup tinggi. Selain UPI, Universitas Islam Bandung (Unisba) mencatat kopmanya punya prestasi bagus dengan omzet usaha Rp100 juta per bulan atau Rp1,2 miliar per tahun dengan anggota 800.  Bahkan Kopma Universitas Pasundan jadi percontohan Kementerian Koperasi dan UKM untuk koperasi mahasiswa. Meskipun dari segi omzet, Bandung hanya kami catat dua yang baik, tetapi dari segi pengelolaan media sosial Kopma Universitas Islam Bandung juga bagus.

Sebagai catatan walau tidak dimasukan dalam tabel koperasi di kalangan mahasiswa di Bandung juga terjadi di ITB, Unpad dan Telkom University dengan kinerja usaha yang lumayan. Begitu juga dengan pengelolaan media sosialnya.

“Kuda Hitam” dari Tasikmala dan Lampung

Untuk pengelolaan media sosial, Kopma Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya mencatat kinerja bagus dengan aktivitas Instagram lebih 2.500 posting dan 4.100 follower, serta 140 video di Youtube dengan 1.120 subscriber.  Relatif sebanding Kopma UGM Yogyakarta yang punya website dan facebook yang lebih update.  Kopma UGM mencatat 2.300 posting instagram tetapi follower di atas 6.100 dan Youtube sebanyak 61 video dan sekitar 250 subscriber per 27 Desember 2020.

Sementara dari segi kinerja keuangan Kopma Unsil mencatat omzet Rp1.9 miliar, berada dalam lima besar Kopma, sekalipun anggota sekitar 800-an orang  menurut Tahun Buku 2019.  Suatu kejutan dari Kopma dari sebuah kota kecil. Boleh dibilang menjadi “Kuda Hitam” di antara Kopma se-Indonesia.

Kuda hitam lainnya adalah Kopma Unila yang punya 1.889 anggota dan omzet Rp1,2 miliar pada tahun buku 2019. Jumlah ini naik dari 2018 secara spektakuler karena jumlah anggota hanya 623 dan omzet sekitar Rp1 miliar.  Sedangkan  untuk pengelolaan media sosial Kopma Unila lumayan dengan 930 posting di instagram dan follower berjumlah 3.100 dan Youtube dengan 53 video dan jumlah subscriber sekitar 180. 

Sementara untuk Jakarta, kepeduliaan mahasiswa agaknya kurang. Hanya Kopma UNJ yang agak menonjol dan angin segar dari UIN Jakarta. Sementara kepedulian mahasiswa terhadap koperasi Universitas Indonesia baru pada tingkat fakultas dan itu hanya ada  beberapa  fakultas.

Di daerah lain, beberapa universitas di Jatim, Jateng dan Lampung juga menunjukan kinerja yang baik. Tampaknya semangat berkoperasi di kalangan milenial lebih banyak didominasi daerah daripada ibu kota. 

SUMBER


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *